Kisah Sex Ngentot di Ujung Sebuah Hujan 2
Iklans.com - Kutarik batang yang masih terselip itu lalu pelan-pelan kukeluarkan dari sarangnya. Masih setengah tegang, tapi ukurannya sudah tampak gede dan agak hangat. Kulirik ke atas dia masih asyik menonton TV. Tak peduli dengan apa yang sedang kulakukan.
Kecuekannya itu kubalas. Otot kenyal yang kini ada di genggamanku sengaja kudiamkan saja. Kutunggu reaksinya. Beberapa saat barulah Bahar tersadar bahwa aku tak melakukan apa-apa terhadapnya lagi. Sejenak pandangannya lepas dari TV berganti ke arahku. Matanya memicing, dahinya berkerut dan bibirnya manyun seperti anak kecil minta sesuatu tapi tak dituruti.
“Please..” rengeknya. Manja banget nih orang, pikirku.
Sebenarnya aku tak betah juga membiarkan benda bulat panjang itu menganggur tergolek di genggamanku. Apalagi Bahar memang jagonya merayu meski hanya dengan mengandalkan ekspresi wajah saja.
Mulutku lalu mulai melahap dan kubenamkan seluruh wajahku ke pangkuannya. Sehingga seluruh otot yang mulai menegang itu masuk hingga ke pangkal tenggorokanku. Dia tampak terhenyak. Lalu kurasakan tangannya mulai memegang kepalaku dan mulai mengusap-usap rambutku seperti memberi semangat.
Bahar memang orang yang tak suka banyak bicara. Dia lebih banyak bertindak lewat sikapnya, ekspresi atau isyarat lainnya yang makin lama bisa mulai kupahami bahasa tubuhnya itu. Maka tekanan dan usapan tangannya bagiku sudah cukup bicara banyak, meminta aku untuk berbuat lebih banyak lagi.
Terus saja kujilati meriam kecil miliknya itu yang kulitnya sudah berlumuran dengan air liurku sehingga kini seluruh permukaan batang itu sudah basah dan mengkilat. Lalu bagian topi bajanya yang membengkak itu pun menjadi sasaran gerakan lidahku. Kujilat dan kuoles-oleskan lidahku ke permukaan daerah itu.
Artikel Terkait
Kurasakan tangannya makin menekan kepalaku ke bawah, padahal apa yang kuperbuat menurutku sudah lebih dari cukup. Mau yang seperti apa lagi sih?
Matanya kulihat masih tertuju ke arah TV, namun konsentrasinya tampaknya mulai buyar. Sesekali ia melirik ke bawah, melihat perbuatanku, lalu memandang lagi ke TV. Baru tahu rasa dia, pikirku. Lanjut baca!













